Makalah Berpikir Menulis Ilmiah “Peran Komunikasi Seorang Public Relations”

Posted: May 11, 2010 in Uncategorized

TUGAS MAKALAH AKHIR

BERPIKIR DAN MENULIS ILMIAH (KPM 200)

PERAN KOMUNIKASI SEORANG PUBLIC RELATIONS

Oleh :

Kartika

( I34080065 )

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam hidupnya selalu ingin berhubungan dengan manusia yang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain akan merasa terisolasi dari masyarakatnya. Adanya kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan juga kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya merupakan hal yang mendorong manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat tersebut, komunikasi mempunyai peranan penting dan pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang.

Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki tiap individu berbeda-beda. Adakalanya, komunikasi itu sulit untuk disampaikan kepada orang lain dikarenakan pada tiap diri individu itu sendiri menganggap bahwa komunikasi merupakan bentuk interaksi yang sederhana. Padahal, jika diketahui lebih luas bahwa komunikasi itu sangatlah rumit. Dalam berkomunikasi juga dapat terjadi kesalahpahaman dalam pemaknaan pesan yang disampaikan dan dapat menimbulkan masalah, hambatan, kekecewaan, meregangkan suatu hubungan, dan sebagainya. Menurut Rumanti[1] (2005: 97), Salah satu hambatan terbesar bagi kelancaran arus informasi adalah keadaan atau sikap yang sudah melekat, membudaya dalam organisasi itu sendiri. Terdapat jarak fisik antarorang yang hendak berkomunikasi dalam sistem itu.

Begitu besarnya peran komunikasi dalam masyarakat, sehingga komunikasi dijadikan suatu pekerjaan atau profesi, seperti public relations. Menurut Simoes[2] (1984: 7) menyimpulkan “Apa Public Relations itu sebenarnya?”

  1. PR merupakan proses interaksi. PR menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak.
  2. PR adalah fungsi manajemen. PR menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antara lembaga atau organisasi dengan publiknya, baik internal maupun eksternal. Hal ini merupakan unsur yang sangat penting dalam manajemen dalam pencapaian tujuan organisasinya.
  3. PR merupakan aktivitas di berbagai bidang ilmu (PR adalah multidisiplin ilmu). PR menanamkan pengetian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan goodwill, kepercayaan, saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya.
  4. PR merupakan profesi profesional dalam bidangnya. Juga, PR merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi dengan secara tepat dan dengan secara terus-menerus. PR merupakan kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan.
  5. PR merupakan penggabungan berbagai ilmu. PR merupakan penerapan kebijaksanaan dan pelaksanaannya melalui interpretasi yang peka atas berbagai peristiwa.

“Praktek kehumasan adalah suatu seni sekaligus suatu disiplin ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensi darinya, memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan atau kepentingan khalayaknya” (Pertemuan asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City, Agustus 1978: 9)[3].

Komunikasi yang dimiliki seorang public relations mempunyai peranan penting dalam setiap hubungannya. Apabila komunikasi tidak dapat digunakan dengan baik atau tidak berjalan dengan lancar maka komunikasi tersebut tidak akan efektif dalam suatu proses komunikasi. Hal ini yang membuat banyak lembaga organisasi menilai keahlian komunikasi manajerial yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kekurangan dalam berkomunikasi.

“Peran komunikasi dalam public relations adalah (1) komunikasi dalam PR merupakan titik sentral, (2) dalam setiap proses komunikasi, hubungan kemanusiaan merupakan proses yang menyangkut kepribadian, sikap, dan tingkah laku yang terjadi pada orang-orang yang terlibat, (3) PR dalam fungsinya melaksanakan komunikasi persuasif dua arah di semua bidang kegiatan dengan maksud memberi motivasi kerja, bertanggung jawab, dan produktif, (4) Atas dasar pengertian tersebut terlihat bahwa komunikasi timbal balik dalam PR merupakan proses integrasi antarmanusia yang bersifat manusiawi, bukan hanya hubungan antarmanusia (human relations) saja. Human relations di sini bersifat action oriented, yang menuju perasaan lahir batin” (Rumanti, 2005: 86)[4].

Pada dasarnya, kemampuan berkomunikasi seorang public relations dapat ditingkatkan dengan cara mengembangkan kemampuan atau potensi yang ada dalam diri seorang public relations, belajar bagaimana caranya berkomunikasi yang baik agar pesan yang akan disampaikan dapat diterima tanpa adanya hambatan dan gangguan. Karena apabila seorang public relations tidak memiliki kemampuan atau potensi untuk berkomunikasi tersebut, akan mengakibatkan komunikasi tidak berjalan dengan lancar atau terjadi hambatan.

“Penyebab-penyebab dari hambatan komunikasi yang terjadi antara lain: (1) Komunikator berpikir dalam lingkup dirinya sendiri, (2) Berbicara dengan konteks penuh rahasia dan disampaikan dalam waktu yang kurang tepat, (3) Tanpa memberi contoh yang nyata, penjelasan sifatnya hanya umum, (4) Bersikap diktator, kurang menggunakan perasaan sebagai pimpinan, sebagai teman, (5) Lamban, tidak efisien, (6) Terlalu cepat mengambil keputusan, dan (7) Tidak konsekuen, tidak ada alternatif” (Rumanti, 2005: 96)[5].

Berkomunikasi yang baik dan efektif akan menghasilkan keuntungan yang tinggi. Komunikasi interpersonal dipandang sebagai satu-satunya alat manajemen oleh PR yang dimanfaatkan dalam mengembangkan suatu organisasi agar tercipta suatu komunikasi yang baik dan efektif. Menurut Muhammad (2004: 159)[6], Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Komunikasi interpersonal, penerapannya antara pribadi atau individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama.

Seseorang akan maju dalam segala hal, jika ia memiliki kemampuan berinteraksi dan juga berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat secara global. Di sinilah, sejauh mana peran komunikasi yang dimiliki oleh seorang public relations perlu ditinjau kembali dalam berhubungan dengan siapa saja.

1.2 Perumusan Masalah

  • Bagaimana seorang public relations dapat berkomunikasi dengan efektif?
  • Jelaskan hubungan antara public relations dengan media publisitas, khususnya televisi?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

  • Mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang public relations agar dapat berkomunikasi dengan efektif.
  • Mengetahui adanya hubungan antara public relations dengan media publisitas, khususnya televisi.
  • Menyelesaikan tugas makalah akhir mata kuliah “Berpikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)”.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :

  • Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
  • Mampu mengidentifikasi hubungan antara public relations dengan media publisitas, khususnya televisi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keefektifan Komunikasi Seorang Public Relations

Peran komunikasi yang dimiliki seorang public relations sangatlah penting agar dapat tercipta komunikasi yang efektif. Tidak ada seorang pun dalam keseharian tugasnya tanpa berkomunikasi, baik itu dalam masalah pekerjaan maupun masalah di luar pekerjaan. Proses komunikasi yang berhasil dengan baik sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku seorang public relations sebagai pengirim gagasan atau pesan, penerima  pesan, media yang dipakai, teknologi informasi yang ada, isi pesan dan cara pesan yang disampaikan serta suasana komunikasi itu sendiri. Keberhasilan itu akan dicerminkan oleh tidak adanya kesenjangan pemahaman antara pengirim dan penerima pesan.

Menurut Rumanti[7] (2005: 107), terdapat empat hal yang harus selalu diperhatikan, diingat, dan dilaksanakan dalam kegiatan komunikasi oleh PR adalah sebagai berikut: (1) bahwa publik kita itu manusia, jadi mereka tidak pernah bebas dari berbagai pengaruh apa saja, (2) manusia itu cenderung suka memperhatikan, membaca atau mendengarkan pesan yang dirasakan sesuai dengan kebutuhan atau sikap mereka, (3) adanya berbagai media massa yang beragam, memberikan efek yang beragam pula bagi publiknya, dan (4) media massa memberikan efek dengan variasi yang besar kepada publik atau perseorangan maupun kelompok.

Tetapi sekarang ini, keefektifan komunikasi yang lebih tinggi cenderung terlihat dalam komunikasi antar pribadi (interpersonal communications) atau dengan penggunaan media massa sebagai alat untuk berkomunikasi yang lebih efektif.

“Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambh komplekslah komunikasi tersebut” (Muhammad, 2004: 159)[8].

Keefektifan ini dapat terlihat dari penyampaian pesan yang sama, terjadinya umpan balik antara pengirim pesan dan penerima pesan, dan lain-lain. Dalam komunikasi interpersonal, proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka, dibagi atas percakapan, dialog, wawancara, seperti dalam suatu percakapan antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa yang lain yang sedang membicarakan tugas akhirnya. Pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang cukup dekat dan pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan secara spontan dan simultan.

Komunikasi antar pribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari berlangsung hubungan antara seorang sahabat yang sudah saling dekat. Hubungan komunikasi ini akan berjalan dengan lancar apabila di antara keduanya sudah saling mengetahui maksud dari pesan yang akan disampaikan. Agar dalam berkomunikasi tercipta keefektifan terhadap komunikasi yang disampaikan, diketahui terdapat beberapa ciri yang harus dimiliki seorang PR. Menurut Kumar (2000: 121-122)[9], “lima ciri efektifitas KAP sebagai berikut : (1) keterbukaan (openess); (2) empati (empathy); (3) dukungan (supportiveness); (4) rasa positif (positiveness); (5) kesetaraan (equality)”. Dalam membangun komunikasi yang efektif, terdapat lima hukum[10] yang perlu diperhatikan yaitu ”Respect ( … sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan … ), Empathy ( … kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain … ), Audible ( … dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik … ), Clarity ( … kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan … ), dan Humble ( … sikap rendah hati yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain … )”.

Komunikasi seorang PR tidak hanya dengan menggunakan komunikasi interpersonal, tetapi dapat juga dengan komunikasi massa. Komunikasi massa yang diterapkan melalui alat, yaitu media massa meliputi cetak dan elektronik. Menurut Wright[11] (1986: 199), dalam komunikasi massa khalayak relatif besar, heterogen, dan anonim bagi sumber. Pengalaman bersifat publik dan cepat. Sumber bekerja lewat suatu organisasi yang rumit alih-alih dalam isolasi, dan pesan mungkin mewakili usaha banyak orang yang berbeda.

Keefektifan yang terjadi dengan penggunaan media massa menimbulkan pengaruh terhadap komunikasi yang berlangsung. Contohnya penggunaan televisi sebagai media elektronik untuk mendapatkan informasi digunakan sebagian orang termasuk seorang public relations dalam memberikan informasi atau melakukan kegiatan PR. Berikut ini terdapat Tabel Karakteristik Saluran Komunikasi Interpersonal dan Mass Media.

Tabel 1. Karakteristik Saluran Komunikasi Interpesonal dan Mass Media[12]

No. Karakteristik Saluran Interpersonal Saluran Media Massa
1. Arus Pesan Cenderung 2 arah Cenderung Searah
2. Konteks Komunikasi Tatap muka Melalui Media
3. Tingkat Umpan Balik Tinggi Rendah
4. Kemampuan mengatasi tingkat selektivitas *) Tinggi Rendah
5. Kecepatan Jangkauan terhadap khalayak yang banyak Relatif lambat Relatif cepat
6. Efek yang mungkin terjadi Perubahan dan pembentukan sikap Perubahan pengetahuan

*) Terutama selektivitas (untuk) terdedah atau selective exposure

Sumber : Rogers dan Shoemaker (1971:253), seperti dikutip dalam Materi Bahan Ajar ILMU PENYULUHAN (KPM 211), Mugniesyah (2006:3)

2.2 Hubungan antara Public Relations dengan Media Publisitas, Khususnya Televisi.

Media publisitas seperti radio, televisi, dan media elektronik lainnya saling berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan seorang public relations. Dalam profesi public relations hubungan media juga sering kali dipahami sebagai penanganan krisis dengan memberitakan tentang hal-hal positif tentang perusahaan saat perusahaan sedang dilanda berita negatif. Pada saat krisis cara terbaik penanganan hubungan media oleh seorang PR adalah dengan mengakui dan memperbaiki kesalahan dengan menginformasikan usaha-usaha ke depan. Dalam hal ini baik media massa maupun PR dalam posisi saling memanfaatkan dan saling diuntungkan. Menurut Rumanti[13] (2005: 118), Media Public Relations adalah berbagai macam sarana penghubung yang dipergunakan seorang PR (mewakili organisasi) dengan publiknya, yaitu publik internal maupun publik eksternal untuk membantu pencapaian tujuan. Alat-alat komunikasi yang dipergunakan dalam hal ini ada berbagai jenis.

Pada umumnya, seorang public relations memanfaatkan media televisi karena  dirasa lebih efektif dan efisien, serta cukup potensial sebagai penggunaan media yang tepat dalam berkomunikasi. Rumanti (2005: 129)[14], “kegunaan siaran televisi adalah untuk menyebarluaskan informasi dan berita, baru dimulai pada tahun 1962, perluasan siarannya baru dimulai tahun 1976, yakni sejak adanya satelit domestik Palapa. Adanya siaran televisi yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi tersebut terdapat keunggulan dan kelemahan yang dimiliki televisi. Keunggulan televisi sebagai media massa di antaranya siaran yang dipancarkan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, punya daya tarik khusus sebagai media “pandang-dengar” (audio-visual), sedangkan kelemahan televisi sebagai media massa adalah biayanya relatif mahal, komunikasinya satu arah, sebagai media audio visual, namun relatif dalam pandangan yang cepat, dan daya beli cukup mahal”.

Dari kelemahan dan kekurangan tersebut, seorang PR mampu mengatur bagaimana cara untuk menerapkan suatu cara berkomunikasi yang baik. Dengan menggunakan media televisi, PR dapat menginformasikan suatu informasi yang akan disampaikan dengan efektif. Dari penyiaran televisi tersebut, membuat seorang pekerja PR penting untuk mendapatkan liputannya. Oleh karena itu, PR melakukan pemilihan yang sesuai dalam tahap penyebaran berita.

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS

HAMBATAN                                      PERAN KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS

KOMUNIKASI EFEKTIF                                HUBUNGAN PR DENGAN

MEDIA PUBLISITAS (TELEVISI)

Komunikasi                  Komunikasi

Interpersonal                Massa (khususnya media televisi)

Komunikasi yang dimiliki seorang public relations memiliki peranan yang sangat penting. Bagaimana seorang PR dapat dikatakan sukses berkomunikasi, apabila PR itu sendiri dapat menyampaikan pesan atau berita kepada seseorang sampai makna yang diberikan dan yang diterima sama. Dalam komunikasi itu sendiri, terdapat hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi seorang public relations. Peran komunikasi yang dimiliki PR dapat berlangsung suatu komunikasi yang efektif. Dari komunikasi yang efektif tersebut, dapat diketahui seorang PR lebih menggunakan komunikasi interpersonal dan komunikasi massa sebagai alat untuk berkomunikasi yang lebih efektif dan lebih efisien karena komunikasi yang efektif harus memperhatikan situasi, tempat, waktu, dan pendengarannya daripada berkomunikasi dengan intrapersonal. Kemudian, dapat dilihat pula adanya hubungan antara PR dengan media publisitas itu sendiri, khususnya televisi yang digunakan seorang PR untuk berkomunikasi. Daya tarik dari televisi sudah hampir menarik perhatian masyarakat, karena televisi merupakan satu-satunya pendorong terkuat dalam menyampaikan pesan.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Komunikasi yang efektif haruslah dimiliki oleh seorang public relations. Peran dari komunikasi yang disampaikan seorang public relations harus mempunyai kesamaan makna dari pesan atau berita yang akan disampaikan. Dalam berkomunikasi, seorang PR mengetahui beberapa hal yang harus selalu diingat, diperhatikan, dan dilakukan dalam kegiatan PR. Kegiatan PR dilakukan dengan menggunakan komunikasi interpersonal atau komunikasi massa dengan penggunaan media publisitas, khususnya televisi yang dirasa lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan pesan atau informasi. Penggunaan media publisitas tersebut khususnya televisi mempunyai hubungan dengan kegiatan PR itu sendiri, di mana PR dapat memberikan berita atau informasi kepada khalayak secara luas. Televisi sudah lama dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan PR dalam menyampaikan pesan. Walaupun dalam penggunaannya, televisi mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam masalah penyiaran sehingga membuat seorang PR melakukan pemilihan pada tahap penyampaian berita atau informasi.

3.2 Saran

Melihat perkembangan komunikasi yang semakin meningkat, membuat seorang public relations harus dapat berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang digunakan, baik dengan menggunakan komunikasi interpersonal maupun dengan menggunakan komunikasi massa melalui media televisi. Dalam proses komunikasi, diharapkan seorang public relations dapat mengetahui kondisi atau situasi, tempat, dan lain sebagainya agar pesan atau berita yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik dan terjadi kesamaan makna. Seorang public relations, diharapkan dapat mengidentifikasi hubungan yang terjadi antara public relations dengan media publisitas, khususnya media televisi yang dianggap lebih efektif dan efisien dalam penyampaian informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Jekins, Frank.1992.PUBLIC RELATIONS Edisi Keempat.Drs. Haris Munandar,

penerjemah.Jakarta: Erlangga

Mugniesyah, Siti Sugiah.2006.Materi Bahan Ajar ILMU PENYULUHAN (KPM

211).Bogor: IPB Press

Muhammad, Dr. Arni.2004.KOMUNIKASI ORGANISASI.Jakarta: Bumi Aksara

Rumanti, Sr. Maria Assumpta.2005.DASAR-DASAR PUBLIC RELATIONS Teori

dan Praktik.Jakarta: PT Grasindo

Tubbs, Stewart L. dan Sylvia Moss.2000.HUMAN COMMUNICATION Konteks-

Konteks Komunikasi Buku Kedua.Dr. Deddy Mulyana, M.A. dan Gembirasari,penerjemah.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

[anonim].Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communication).

http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/.2 Januari 2010

[anonim].Komunikasi yang Efektif.http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/

mandiri/2002/04/1/man01.html.2 Januari 2010


[1] Sr. Maria Assumpta Rumanti, DASAR-DASAR PUBLIC RELATIONS Teori dan Praktik (Jakarta: PT Grasindo, 2005), h.97

[2] Roberto Simoes seperti dikutip Sr. Maria Assumpta Rumanti, DASAR-DASAR PUBLIC RELATIONS Teori dan Praktik (Jakarta: PT Grasindo, 2005), h.7

[3] Sebuah pertemuan yang dilakukan para asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City yang berlangsung pada Bulan Agustus Tahun 1978 seperti dikutip dalam buku PUBLIC RELATIONS Edisi Keempat, h.9

[4] Sr. Maria Assumpta Rumanti, op. cit., h.86

[5] Ibid., h.96

[6] Dr. Arni Muhammad, KOMUNIKASI ORGANISASI (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h.159

[7] Sr. Maria Assumpta Rumanti, op. cit., h.107

[8] Dr. Arni Muhammad, op. cit., h.159

[9] Dikutip dari http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/ yang diakses pada tanggal 2 Januari 2010

[10] Dikutip dari http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/04/1/man01.html yang diakses pada tanggal 2 Januari 2010

[11] Wright seperti dikutip Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, dalam buku HUMAN COMMUNICATION Konteks-Konteks Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), h.199

[12] Rogers dan Shoemaker (1971:253), seperti dikutip dalam Materi Bahan Ajar ILMU PENYULUHAN (KPM 211), Mugniesyah (2006:3) pada Materi Peranan Komunikasi Massa dalam Penyuluhan Pertanian

[13] Sr. Maria Assumpta Rumanti, op. cit., h.118

[14] Ibid., h.129

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s