Kamis Subuh Puncak Hujan Meteor Leonid
Selasa, 16 November 2010 | 18:29 WIB
Arah pandang untuk menunggu meteor-meteor Leonid. Simulasi diambil dengan software Stellarium pukul 01.00, untuk Kamis (18/11/2010).

KOMPAS.com – Puncak hujan meteor Leonids diperkirakan akan terjadi antara 17-18 November 2010. Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat momen berharga yang bahkan selalu ditunggu para astronom ini. Jumlah meteor Leonids selalu bervariasi setiap tahunnya. Namun para ahli meteor memprediksi bahwa tahun ini orang-orang bisa melihat kurang lebih 15-20 meteor setiap jamnya.

Peristiwa ini bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia asal cuaca cerah. Dari Indonesia, peristiwa tahunan ini dapat disaksikan Kamis dini hari hingga subuh. Meteor-meteor akan bergerak radial dari pusatnya sekitar Rasi Leo yang terbit sekitar pukul 01.00 dinihari di arah timur. Rasi Leo yang mengilustrasikan gambar singa khas dengan dua bintang besarnya yakni Regulus di atas dan Denebola di bawah.

Bagaimana harus melihatnya? Pertama, siapkan sebuah kursi yang memungkinkan anda untuk berbaring. Ini penting sebab bisa mencegah leher belakang terasa pegal karena terlalu banyak mendongak ke atas. Ketika malam, mungkin rasa dingin menghampiri. Jangan lupa untuk menyiapkan selimut tetap hangat dan pastinya takkan masuk angin. Segelas kopi atau teh mungkin akan menjadi teman yang baik.

Ajaklah teman untuk menikmati momen berharga ini. Selain itu, rileks saja mata Anda. Mata yang rileks akan membantu melihat meteor dengan jeli dan Anda tidak membutuhkan binokuler.

Cobalah lebih jeli dalam melihat. Beberapa meteor menghasilkan cahaya terang yang luar biasa, menyerupai bola api. Meteor itu akan tampak menyala dan meledak dalam sekejap. Anda bisa mengamati jejak ledakannya yang kadang bisa bertahan hingga beberapa detik, bahkan menit.

Kemudian, cobalah mencari waktu dan tempat yang tepat. Waktu yang tepat adalah waktu antara tenggelamnya bulan dan terbitnya matahari atau waktu dimana langit benar-benar gelap. Sementara, tempat yang tepat adalah tempat di mana Anda bisa melihat langit luas dengan lapang dan tidak terlalu banyak cahaya di sekitarnya.

Terakhir, agar nyaman dalam melihat dan Anda pun bisa merindukan kehadirannya tahun depan, tak perlu mengabadikannya dalam foto atau video. Percayalah, video atau foto hanya akan mengurangi nilai keajaiban alam anugerah Yang Maha Kuasa ini.

Rasi Leo

Meteor Leonid adalah meteor-meteor yang berada di arah rasi bintang Leo. Meteor ini merupakan serpihan-serpihan dari komet Temple Tuttle. Revolusi bumi akan membawa bumi berdekatan dengan lokasi serpihan-serpihan itu, memungkinkan beberapa serpihan memasuki atmosfer bumi dan terbakar serta tampak sebagai bola-bola cahaya.

Seorang astronom bernama Jeremie Vaubaillon dari Institut de Mecanique Celeste et de Calcul des Ephemerides di Perancis telah membuat peta terkini (tahun 2010) lintasan bumi yang “bersentuhan” dengan lintasan meteor-meteor ini.  Menurut peta tersebut, meteor akan bisa terlihat dari tanggal 8-24 November 2010, dengan puncaknya tanggal 17-18 November 2010.

Meteor itu bergerak berlawanan dengan arah gerakan bumi. Kecepatan gerak meteor ini bisa mencapai 72 kilometer per detik. Pada tahun 1999-2002, pernah terjadi fenomena badai meteor ini karena ribuan meteor Leonid bisa disaksikan setiap jamnya.

SPACE.COM

Proposal Pemasaran Sosial

Posted: November 19, 2010 in Uncategorized

PROPOSAL PEMASARAN SOSIAL

GERAKAN BERWIRAUSAHA

Studi Kasus di Lingkungan Internal dan Eksternal

Institut Pertanian Bogor

 

Dosen Praktikum

Irni Rahmayani Johan

 

Disusun Oleh :

Kelompok 3

Veranika Br Kemit      (H24070004)

Widisya                       (H24070047)

Kartika                                    (I34080065)

Rr. Niken Sitoresmi    (I34080111)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

BAB I ANALISIS SITUASI. 3

1.1        Analisis Permasalahan. 3

1.1.1         Latar Belakang. 3

1.1.2         Data Real 4

1.2        Analisis Sasaran dan Perilaku. 5

1.3        Analisis Kerjasama. 5

1.3.1         Institusi Terkait 5

1.3.2         Identifikasi Program yang Sejalan. 6

1.3.3         Sumberdaya yang Dibutuhkan. 7

1.4        Analisis Jangkauan Media. 7

BAB II SEGMENTASI SASARAN.. 8

2.1        Sasaran Primer. 8

2.2        Sasaran Sekunder. 8

2.3        Sasaran Tersier. 8

BAB III TUJUAN AKHIR DAN TUJUAN UNTUK SETIAP SEGMENTASI. 9

3.1        Tujuan Akhir. 9

3.2        Tujuan Untuk Setiap Segmentasi 9

3.2.1         Sasaran primer : 9

3.2.2         Sasaran sekunder : 9

3.2.3         Sasaran tersier : 9

BAB IV PERUMUSAN PESAN.. 11

4.1        Pesan Universal 11

4.2        Matriks Pesan Berdasarkan Segmentasi Sasaran dan Tujuan. 11

BAB V MANAJEMEN  RENCANA KEGIATAN.. 14

BAB VI RENCANA ALAT MONITORING DAN EVALUASI. 16

BAB VII RENCANA BIAYA.. 17

BAB VIII PENUTUP. 19

8.1        Kesimpulan. 19

 

 

BAB I ANALISIS SITUASI

 

1.1       Analisis Permasalahan

1.1.1    Latar Belakang

Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1996 tidak hanya melumpuhkan dunia usaha, tetapi juga menggoyahkan sendi-sendi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sehingga dunia kerja menjadi kian sempit, sementara masyarakat yang membutuhkan kerja terus meningkat dan meningkatnya penggangguran dimana-mana. Adanya penganguran dalam anggota keluarga berarti masalah bagi anggota keluarga yang lain. Sebab, mereka terpaksa menanggung beban hidup anggota keluarga yang menganggur. Secara luas, ini juga berarti pengangguran yang disebabkan ketiadaan lapangan kerja akhirnya menjadi beban tanggungan masyarakat juga. Pengangguran ini bukanlah hasil sebuah pilihan untuk tidak bekerja, tetapi akibat dari semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan, terutama dikota-kota besar.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di perkotaan sering mengharapkan mendapat pekerjaan formal di kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta. Namun, justru sektor seperti itulah yang pada masa–masa ini paling merasakan dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan. Konsekuensinya adalah efisiensi tenaga kerja dengan sedikit menyerap tenaga kerja baru.

Bahkan selain efisiensi tenaga kerja, para lulusan perguruan tinggi pun saat ini semakin sulit mendapatkan pekerjaan karena tidak banyak terjadi ekspansi kegiatan usaha. Dalam keadaan seperti ini maka masalah pengangguran termasuk yang berpendidikan tinggi akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial dan kemasyarakatan. Kondisi tersebut di atas didukung pula oleh kenyataan bahwa sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Hal ini bisa jadi disebabkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukannya lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan perilaku wirausaha pada masyarakat luas khususnya para pencari kerja akan sangat penting dan strategis bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu, memiliki kecermatan dalam menciptakan peluang usaha sendiri yang kreatif dan tetap proaktif mengembangkan usaha tanpa meninggalkan potensi lokal dalam menghadapi pasar global. Dimana berwirausaha merupakan salah satu alternatif jalan keluar terbaik bagi masalah-masalah tersebut. Wirausaha adalah orang yang memiliki dan mengelola serta menjalankan usahanya. Wirausaha didefinisikan sebagai orang yang memiliki gagasan (idea man) dan manusia kerja (man of action) sering dikaitkan orang yang inovatif atau kreatif (Holt, 1992:85). Orang yang mendorong perubahan sangat penting dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Wirausaha adalah orang yang suka mengambil resiko dan mampu mengembangkan kreatifitasnya.

1.1.2    Data Real

Pada tahun 1996 tingkat pengangguran masih 4,9 persen, dua tahun setelah krisis naik menjadi 6,3 persen, lalu naik lagi menjadi 8,1 persen pada tahun 2001. Setahun kemudian angka pengangguran merangkak naik menjadi 9,1 persen yang berarti jumlah penganggur telah lebih dari 10 juta orang atau 9,9 persen dari angkatan kerja. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga memperkirakan pada tahun 2004 jumlah angkatan kerja akan mencapai 102,88 juta orang, termasuk angkatan kerja baru 2,10 juta orang (Sukernas-BPS 2002).

Penciptaan lapangan kerja yang tak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru itu menyebabkan angka pengangguran terbuka tahun 2004 meningkat menjadi 10,88 juta orang (10,32 persen dari angkatan kerja), dari tahun sebelumnya 10,13 juta orang (9,85 persen dari angkatan kerja). Terjadinya over-supply tenaga yang tidak diimbangi oleh demand yang memenuhi standar. Sementara tuntutan kualitas sumber daya manusia makin lama makin tinggi dan menuntut kekhususan yang lebih sulit lagi untuk dipenuhi. Dengan melihat kondisi tersebut maka sektor informal merupakan alternatif dapat membantu menyerap orang-orang yang menganggur, tetapi kreatif dan menjadi peredam di tengah pasar global.

Potensi wirausaha Indonesia sangat besar, terutama jika melihat data jumlah usaha kecil dan menengah yang ada. Sampai dengan Tahun 2006 menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) di Indonesia terdapat 48,9 juta usaha kecil dan menengah (UKM) menyerap sekitar 80% tenaga kerja, serta menyumbang 62% dari PDB (di luar migas). Berdasarkan data hasil penelitian global entrepreneurship monitor (GEM) pada tahun yang sama di Indonesia terdapat 19.3% penduduk berusia 18-64 tahun yang terlibat dalam pengembangan bisnis baru (usia bisnis <42 bulan). Namun di sisi lain data BPS pada tahun yang sama juga menunjukkan terdapat 11 juta penduduk Indonesia yang masih menganggur dari 106 juta angkatan kerja, serta 37 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Angka tersebut diperkirakan bertambah setiap tahunnya.

 

1.2       Analisis Sasaran dan Perilaku

Sasaran primer dari gerakan berwirausaha ini ditujukan kepada para mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi se-Kabupaten Bogor yang berjiwa wirausahawan dan ingin mandiri.Sasaran sekunder ditujukan kepada keluarga termasuk orang tua serta kerabat.Sedangkan untuk sasaran tersier ditujukaan kepada lembaga inkubator bisnis yang ada dalam perguruan tinggi (fakultas ekonomi dalam hal memberikan mata kuliah Kewirausahaan), Departemen Ketenagakerjaan, DIKTI.

Dapat kita ketahui, bahwa perilaku sasaran yang sedang terjadi saat ini banyak sekali pengangguran akibat kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia, mutu pendidikan yang menjadi persyaratan untuk dapat bekerja lebih baik, dan banyaknya sarjana-sarjana yang saat ini masih menganggur.

Diharapkan dari perilaku awal sasaran akan berubah sesuai dengan tujuan gerakan pemasaran sosial berwirausaha yaitu dengan upaya membuat usaha sendiri yang nantinya akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang menganggur. Istilah ungkapan yang biasa digunakan dalam gerakan berwirausaha ini adalah “Mari Tingkatkan Jiwa Berwirausaha Untuk Menjadikan Indonesia Yang Lebih Baik”.

 

1.3       Analisis Kerjasama

1.3.1    Institusi Terkait

  • Perguruan tinggi se-Kabupaten Bogor
  • Kerjasama dengan Departemen Ketenagakerjaan
  • DIKTI

1.3.2    Identifikasi Program yang Sejalan

Program yang dijalankan oleh Perguruan Tinggi adalah penyelenggaraan mata kuliah kewirausahaan.Dari mata kuliah kewirausahaan, mahasiswa dapat memperoleh ilmu untuk berwirausaha sekaligus prakteknya.Selain itu, juga dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga inkubator bisnis.

Program pembangunan bidang tenaga kerja dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan optimalisasi mobilitas masyarakat dalam operasionalnya akan disesuaikan dengan program pembangunan bidang tenaga kerja sampai dengan tahun 2011.

Dari program-program yang dilaksanakan Departemen Ketenagakerjaan, kemungkinan kerja sama yang akan dijalin adalah :

1.      Program Peningkatan perencanaan pembangunan ketenagakerjaan

  • Rapat kerja program ketenagakerjaan
  • Monitoring dan evaluasi program ketenagakerjaan
  • Perencanaan tenaga kerja dan Identifikasi potensi ketenagakerjaan

2.      Program pengembangan lembaga tenaga kerja dengan kegiatan:

  • Bimbingan Teknis Struktur, mediator, konsiliator, dan arbiter
  • Peningkatan Wawasan Ketenagakerjaan
  • Sosialisasi pelaksanaan

3.      Program Perluasan Informasi Pasar Kerja dengan kegiatan:

  • Penyuluhan dan penyebaran informasi melalui media cetak
  • Pengembangan sistem informasi

Kerjasama dengan DIKTI :

Dikti memiliki program prioritas nasional untuk kopertis ada tiga, yaitu pertama pengembangan program kewirausahaan Mahasiswa Perguruan Tinggi; kedua, pengembangan program akademik dan ketiga, program peningkatan EPSBED serta satu program reguler Kopertis, yaitu peningkatan tupoksi KOPERTIS. Kemungkinan kerjasama yang akan dijalin dengan DIKTI tersebut adalah pengembangan program kewirausahaan Mahasiswa Perguruan Tinggi.

Untuk tiga kategori selain kopertis, ada enam program:

  • kegiatan kewirausahaan mahasiswa;
  • kegiatan pengembangan minat, bakat, kegiatan akademik dan pengembangan kompetensi mahasiswa;
  • langganan e-jurnal;
  • peningkatan keamanan (safety) keselamatan, kenyamanan, keindahan dan kebersihan kampus;
  • penghijauan kampus dan dukungan terhadap penghijauan kota/wilayah;
  • pengembangan unit kegiatan mahasiswa (UKM) (olah raga, seni, KSRPMI, Mapala, Pramuka, Menwa, Pers, Kampus, Kerohanian dll).

Kemungkinan kerjasama yang akan dijalin dari 6 program diatas adalah program kegiatan kewirausahaan mahasiswa.Untuk memperpendek waktu penyesuaian lulusan perguruan tinggi memasuki dunia kerja, mendapatkan pengalaman kerja di perusahaan, DIKTI juga menfasilitasi program Co-op (cooperative academic Education) di industri/perusahan besar, maupun di UKM-UKM.

1.3.3    Sumberdaya yang Dibutuhkan

Untuk program prioritas nasional yaitu pengembangan program kewirausahaan Mahasiswa Perguruan Tinggi se-Kabupaten Bogor dan program kegiatan kewirausahaan mahasiswa, DIKTI mengalokasikan dananya masing-masing 1 milyar.

 

1.4       Analisis Jangkauan Media

Gerakan berwirausaha ini umumnya dipublikasikan kepada sasaran melalui siaran radio Kisi FM, Agri FM, Koran Kampus, dan Radar Bogor. Sebelum melakukan kegiatan pemasaran sosial, kami melakukan analisis terlebih dahulu terhadap perilaku sasaran dengan mengunjungi sasaran yang berada di lingkungan eksternal IPB dan untuk sasaran di lingkungan internal IPB dengan melakukan wawancara langsung secara acak.

 

 

BAB II SEGMENTASI SASARAN

 

2.1       Sasaran Primer

Sasaran primer ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi se-kabupaten Bogor.

 

2.2       Sasaran Sekunder

Sasaran sekunder di antaranya keluarga termasuk orang tua, kerabat, dan dosen.

 

2.3       Sasaran Tersier

Sasaran tersier adalah lembaga inkubator bisnis yang ada dalam perguruan tinggi (fakultas ekonomi dalam hal memberikan mata kuliah Kewirausahaan), Departemen Ketenagakerjaan yang berkepentingan membuat kebijakan, DIKTI, Rektor setiap perguruan tinggi.

 

 

BAB III TUJUAN AKHIR DAN TUJUAN UNTUK SETIAP SEGMENTASI

 

3.1       Tujuan Akhir

Tujuan akhir dari pemasaran sosial yang telah dilakukan diharapkan mahasiswa termotivasi untuk berwirausaha serta dapat membuka lapangan pekerjaan baru agar dapat mengurangi tingkat pengangguran sekitar 9,9 persen.

 

3.2       Tujuan Untuk Setiap Segmentasi

3.2.1    Sasaran primer :

  • Menumbuhkan motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa.
  • Membangun sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpindan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial.
  • Menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi.
  • Menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  • Membangun jejaring bisnis antarpelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan  pengusaha yang sudah mapan
  • Keluarga : membantu memotivasi berwirausaha pada sasaran primer.
  • Kerabat : membantu memotivasi agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi para pengangguran.
  • Dosen : memberikan konsep mengenai upaya berwirausaha, meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business.
  • Lembaga inkubator bisnis yang ada dalam perguruan tinggi (fakultas ekonomi dalam hal memberikan mata kuliah Kewirausahaan) : memberikan bantuan teknis dan konsultasi manajemen bisnis (keuangan, pemasaran, akuntansi, dan manajemen umum) dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan manajerial dan kewirausahaan sasaran primer, melaksanakan pelayanan konsultasi yang berkesinambungan kepada usaha kecil dan usaha baru para sasaran primer sesuai dengan tahap perkembangan masalah yang dihadapi oleh pengusaha kecil yang bersangkutan,
  • Departemen ketenagakerjaan :meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan optimalisasi mobilitas masyarakat dalam operasionalnya akan disesuaikan dengan program pembangunan bidang tenaga kerja sampai dengan tahun 2011.
  • DIKTI : Membantu meningkatkan kemampuan perguruan tinggi dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan, mempererat hubungan antara dunia akademis dan dunia usaha, membuka jalan bagi penyesuaian kurikulum yang dapat merespons tuntutan dunia usaha, menghasilkan wirausaha-wirausaha muda pencipta lapangan kerja dan calon pengusaha sukses masa depan.

3.2.2    Sasaran sekunder :

3.2.3    Sasaran tersier :

 

 

BAB IV PERUMUSAN PESAN

4.1       Pesan Universal

“Mari Tingkatan Jiwa Berwirausaha Untuk Menjadikan Indonesia yang Lebih Baik”.

 

4.2       Matriks Pesan Berdasarkan Segmentasi Sasaran dan Tujuan

No. Segmentasi Sasaran Tujuan Materi Pesan
1. Mahasiswa perguruan tinggi se-kabupaten Bogor.

 

  • Menumbuhkan motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa.
  • Membangun sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpindan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial.
  • Menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi.
  • Menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  • Membangun jejaring bisnis antarpelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan  pengusaha yang sudah mapan.
  • Pengertian wirausaha
  • Keunggulan wirausaha
  • Sikap mental
  • Manfaat berwirausaha
2. Keluarga termasuk orang tua, kerabat, dan dosen.
  • Membantu memotivasi berwirausaha pada sasaran primer.
  • Membantu memotivasi agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
    • Memberikan konsep mengenai upaya berwirausaha, meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business.
    • Memberikan informasi data-data real dari mahasiswa-mahasiswa yang telah berhasil selama berwirausaha. Contohnya Horta.
3. Lembaga inkubator bisnis yang ada dalam perguruan tinggi (fakultas ekonomi dalam hal memberikan mata kuliah Kewirausahaan), Departemen Ketenagakerjaan yang berkepentingan membuat kebijakan, DIKTI, Rektor setiap perguruan tinggi (Tersier).
  • Memberikan bantuan teknis dan konsultasi manajemen bisnis (keuangan, pemasaran, akuntansi, dan manajemen umum) dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan manajerial dan kewirausahaan sasaran primer, melaksanakan pelayanan konsultasi yang berkesinambungan kepada usaha kecil dan usaha baru para sasaran primer sesuai dengan tahap perkembangan masalah yang dihadapi oleh pengusaha kecil yang bersangkutan,
  • Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan optimalisasi mobilitas masyarakat dalam operasionalnya akan disesuaikan dengan program pembangunan bidang tenaga kerja sampai dengan tahun 2011.
  • Membantu meningkatkan kemampuan perguruan tinggi dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan, mempererat hubungan antara dunia akademis dan dunia usaha, membuka jalan bagi penyesuaian kurikulum yang dapat merespons tuntutan dunia usaha, menghasilkan wirausaha-wirausaha muda pencipta lapangan kerja dan calon pengusaha sukses masa depan.
  • Memberikan mata kuliah dasar bagi para wirausaha muda yang diberikan di tempat kuliah atau di sekolah perguruan tinggi lainnya.

 

 

BAB V MANAJEMEN  RENCANA KEGIATAN

 

No. Sasaran Jenis Kegiatan Waktu Deskripsi Kegiatan Media
1. Primer

(Mahasiswa Perguruan Tinggi se-Kabupaten Bogor)

Seminar Kewirausahaan

 

Bulan 1 Mengundang pembicara seorang wirausaha muda mandiri seperti Mario Teguh. Pamflet, Baliho, Poster, Website, Spanduk,
Training Bulan 3 Pelatihan dan percobaan berwirausaha (simulasi awal sebelum pembukaan UKM)
Menjalankan Kegiatan UKM Bulan 5 Melakukan realisasi berwirausaha yang sesungguhnya sesuai dengan minat dan kemampuan sasaran primer dengan mengelompokkan menjadi beberapa tim yang dipimpin oleh seorang tim leader.
2. Sekunder

(Keluarga termasuk orang tua, kerabat, dan dosen)

Seminar Bulan 1 Mengundang pembicara sebagai pemotivator. Contohnya: Mario Teguh, Bob Sadino. Poster, Baliho, Pamflet, Spanduk.
Penyuluhan Bulan 2 Melakukan kegiatan penyuluhan kepada sasaran sekunder dalam kelompok kecil
3. Tersier

(lembaga inkubator bisnis yang ada dalam perguruan tinggi (fakultas ekonomi dalam hal memberikan mata kuliah Kewirausahaan), Departemen Ketenagakerjaan yang berkepentingan membuat kebijakan, DIKTI, Rektor setiap perguruan tinggi).

Pembukaan UKM Bulan 4 Pemberian modul, alat-alat, tempat usaha, dan berbagai fasilitas lain yang dapat menunjuang kegiatan berwirausaha primer. Iklan di TV, Koran, dan radio.
Pemantauan UKM Bulan 6 Melakukan pemantauan, pengecekan terhadap pembukaan UKM yang baru setelah 1 bulan berjalan.
Evaluasi UKM Bulan 12 Melakukan evaluasi dan saran untuk kemajuan UKM yang telah berjalan serta menganalisis dan mencari solusi terhadap permasalahan yang muncul selama UKM berjalan selama 1 tahun.

 

BAB VI RENCANA ALAT MONITORING DAN EVALUASI

 

Kegiatan monitoring terhadap usaha-usaha baru yang sedang dikelola seorang wirausaha seperti UKM yang telah berjalan akan diinformasikan kepada masing-masing tim melalui iklan di media massa, seperti Koran dan radio. Setelah monitoring dilakukan, akan disediakan kotak saran via e-mail, agar setiap tim dapat menyampaikan semua permasalahan yang dialami selama UKM berjalan dan kendala yang dihadapi pelaksana dapat menganalisis dan mencari solusi untuk membantu tim mengatasi semua kendala tersebut.

 

BAB VII RENCANA BIAYA

 

PEMASUKAN

DIKTI                                                                                                 Rp.      300.000.000

Departemen Ketenagakerjaan                                                 Rp.      100.000.000

Lembaga Inkubator                                                                     Rp.        50.000.000

Seluruh Rektor Perguruan Tinggi se-Bogor                       Rp.        20.000.000

Dana Sponsorship                                                                         Rp.        56.450.000

Total Pemasukan                                                                  Rp.      562.450.000

 

PENGELUARAN

  • Kesekretariatan

Administrasi                                                                                  Rp.             100.000

Pembuatan Proposal (60x Rp.30.000)                              Rp.          1.800.000

Tinta Printer (10x Rp.30.000)                                              Rp.             300.000

Pembuatan Stempel (10x Rp.25.000)                                Rp.             250.000

Jumlah                                                                                              Rp.          2.450.000

 

  • Acara

1. Seminar Kewirausahaan Bagi Sasaran Primer

Pembicara                                                                  Rp.          5.000.000

Moderator                                                                 Rp.          1.500.000

MC                                                                                 Rp.             500.000

2. Training Berwirausaha Bagi Sasaran Primer

Pembicara                                                                 Rp.          5.000.000

Simulasi Bisnis                                                         Rp.          3.000.000

Trainer                                                                        Rp.          5.000.000

3. Menjalankan Kegiatan UKM Bagi Sasaran Primer

ModalUsaha, Pembuatan tempat usaha

&Peralatan@tim Rp.7.000.000                                Rp.      490.000.000

4. Seminar Kewirausahaan Bagi Sasaran Sekunder

Pembicara                                                                 Rp.          5.000.000

Moderator                                                                Rp.          1.500.000

MC                                                                                   Rp.             500.000

5. Monitoring Terhadap UKM Baru

Pihak Monitor                                                          Rp.          3.000.000

6. Evaluasi Kemajuan UKM Baru

Pihak-pihak evaluasi                                                Rp.          3.000.000

Jumlah                                                                      Rp.      523.000.000

 

 

  • Design, Dekorasi dan Dokumentasi

Name Tag Panitia  (60 x Rp.3.000)                            Rp.             180.000

Spanduk+Baliho                                                         Rp.          2.000.000

Biaya Pemasangan Baliho dsb                                    Rp.             750.000

Pamflet                                                                        Rp.          1.000.000

Poster                                                                          Rp.             450.000

Iklan Masyarakat                                                        Rp.             500.000

Pemasangan di Media koran                                       Rp.             600.000

Dokumentasi                                                               Rp.             400.000

Plakat Pembicara dan  Plakat Moderator                    Rp.             900.000

Dekorasi                                                                      Rp.             500.000

Sertifikat Peserta         (700x Rp 2.500)                      Rp.          1.750.000

Sertifikat Panitia         (60x Rp 2.500)                        Rp.             150.000

Jumlah                                                                         Rp.          9.180.000

  • Konsumsi

Aqua Gelas                 (7 duz x Rp 20.000)                Rp.             140.000

Aqua Pengisi Acara dan

Undangan                   (40 botol x Rp 1.500)              Rp.               60.000

Snack Pengisi Acara dan

Undangan                   (40 duz x Rp 5.000)                Rp.             200.000

Snack Peserta Seminar (700 x Rp 3.000)                    Rp.          2.100.000

Konsumsi Pengisi Acara (40x Rp 8.000)                    Rp.             320.000

dan Undangan

Konsumsi Peserta Seminar (700x Rp 5.000)              Rp.          3.500.000

Jumlah                                                                         Rp.          6.320.000

  • Logistik dan Transportrasi

1. Seminar

Sewa Tempat                                                                 Rp.          5.000.000

Sewa Sound, Mikrofon, dll                                           Rp.          6.000.000

Biaya Keamanan                                                            Rp.             500.000

Transportasi                                                                    Rp.          1.000.000

2. Training

Sewa Tempat                                                                 Rp.          5.000.000

Peminjaman Wireless Mic                                              Rp.             500.000

3. Monitoing

Transportasi                                                                    Rp.          1.000.000

4. Evaluasi

Sewa Tempat                                                                 Rp.          2.000.000

Peminjaman Wireless Mic                                              Rp.             500.000

Jumlah                                                                            Rp.        21.500.000

 

Total Pengeluaran                                                              Rp.      562.450.000


BAB VIII PENUTUP

 

8.1       Kesimpulan

Wirausaha merupakan salah satu alternatif jalan keluar terbaik untuk masalah pengangguran di Indonesia.Wirausaha adalah orang yang memiliki dan mengelola serta menjalankan usahanya. Orang yang mendorong perubahan sangat penting dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Wirausaha adalah orang yang suka mengambil resiko dan mampu mengembangkan kreatifitasnya.

Tujuan akhir dari pemasaran sosial Gerakan Berwirausaha ini diharapkan mahasiswa termotivasi untuk berwirausaha serta dapat membuka lapangan pekerjaan baru agar dapat mengurangi tingkat pengangguran sekitar 9,9 persen. Diharapkan dari perilaku awal sasaran akan berubah sesuai dengan tujuan gerakan pemasaran sosial berwirausaha yaitu dengan upaya membuat usaha sendiri yang nantinya akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang menganggur. Istilah ungkapan yang biasa digunakan dalam gerakan berwirausaha ini adalah “Mari Tingkatkan Jiwa Berwirausaha Untuk Menjadikan Indonesia Yang Lebih Baik”.

Lubang Hitam Termuda Ditemukan

Posted: November 19, 2010 in Uncategorized
Blackhole
Lubang Hitam Termuda Ditemukan
Selasa, 16 November 2010 | 14:31 WIB

NASA

Lubang hitam atau blackhole SN1979C

KOMPAS.com — Para astronom berhasil mengambil citra lubang hitam yang masih fresh, baru saja “dilahirkan” alias terbentuk. Pengambilan citra lubang hitam yang berjarak 50 juta tahun cahaya dari Bumi itu dilakukan dengan bantuan teleskop luar angkasa Chandra X-Ray.

Lubang hitam itu diketahui terbentuk dari supernova bernama SN1979C yang terletak di galaksi M100. Supernova SN1979C terbentuk dari ledakan sebuah bintang pada tahun 1979 yang berhasil diamati oleh seorang astronom amatir asal Amerika Serikat.

Dalam kurun waktu 30 tahun, para astronom memperkirakan bahwa lubang hitam ini telah menghisap massa gas yang setara dengan massa bumi. “Lubang hitam ini seperti pemakan planet dalam film Star Trek,” kata Kimberly Weaver, astrofisikawan NASA yang terlibat dalam observasi ini.

Avi Loeb, astronom lain, mengatakan, “Ini adalah kali pertama kita bisa melihat lubang hitam yang baru saja terbentuk. Dengan penemuan ini, kita bisa mempelajari sebuah lingkungan yang tidak bisa direkayasa di laboratorium, hanya ada di alam semesta.”

Penemuan ini juga berbeda dengan penemuan lubang hitam yang lain sebab para astronom secara pasti mengetahui waktu terbentuknya lubang hitam serta bisa menyaksikan kelahiran dan perkembangan lubang hitam tersebut sejak “bayi”. Bisa dikatakan bahwa lubang hitam ini merupakan lubang hitam termuda yang pernah ditemukan.

Dengan mempelajari lubang hitam ini, ilmuwan bisa memahami tentang mekanisme ledakan massif dari suatu bintang, jumlah lubang hitam yang ada di alam semesta, dan seberapa banyak materi yang tersisa dari sebuah ledakan bintang.

Adapun Lubang hitam merupakan pemusatan massa di suatu daerah di luar angkasa yang menghasilkan gaya gravitasi tinggi sehingga tidak ada satu pun zat, termasuk cahaya, yang mampu lari darinya. Lubang hitam itu menghisap seluruh materi sisa-sisa ledakan bintang.

Hasil observasi ini dupublikasikan dalam jurnal New Astronomy yang terbit baru-baru ini. Para peneliti yang terlibat adalah Weaver, Loeb, Christine Jones, dan Daniel Patnaude dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.

 

http://sains.kompas.com/read/2010/11/16/14314676/Lubang.Hitam.Termuda.Ditemukan

KARAKTER BANGSA SEBAGAI MODAL UNTUK SOLUSI PEMBANGUNAN DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai permasalahan terutama bagaimana tantangan pembangunan yang sedang terjadi saat ini. Harus diakui bahwa tantangan itu semakin lama, semakin berkembang menjadi kompleks dan beragam. Globalisasi membuktikan bahwa hanya bangsa-bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan tangguh yang sanggup menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Bangsa yang kuat dan tangguh juga sanggup untuk mengubah berbagai tantangan itu menjadi peluang yang menguntungkan terhadap bangsa itu sendiri.

Dilihat dari SDM, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke adalah negara besar yang kaya akan sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun manusia yang dimiliki. Kekayaan sumber daya manusia mencakup aneka-ragam suku bangsa, adat-istiadat, dan budaya. Letak Indonesia secara ekonomi juga sangat strategis dalam lalu-lintas dunia, percaturan ekonomi, dan politik internasional.

Sebuah wilayah yang kaya akan sumberdaya alam, tidaklah dengan sendirinya memberikan kemakmuran bagi warga masyarakatnya, jika sumberdaya manusia yang ada tidak mampu memanfaatkan dan mengembangkan teknologi guna memanfaatkan sumberdaya alamnya. Sebaliknya, sebuah wilayah yang miskin sumberdaya alam, namun cakap dalam mengembangkan teknologi, ternyata lebih cepat berkembang dibandingkan wilayah lainnya yang tidak cukup mempunyai sumberdaya alam dan manusia yang unggul. Hal ini berarti bahwa sumberdaya manusia ternyata memiliki peran penting dalam proses pemakmuran sebuah wilayah. Sumberdaya manusia berperan ganda, baik sebagai obyek namun sekaligus sebagai subyek pembangunan. Sebagai obyek pembangunan, SDM merupakan sasaran pembangunan untuk disejahterakan, dan sebagai subyek, SDM berperan sebagai pelaku pembangunan yang sangat menentukan kemajuan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia, diakui mempunyai sumberdaya alam (SDA) yang sangat melimpah. Wilayah ini sesungguhnya sangat potensial untuk menjadi kekuatan ekonomi baik pada tingkat nasional, regional, maupun internasional. Sayangnya, sumberdaya manusia yang tersedia sangat terbatas, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

1.2       Perumusan Masalah

1.2.1    Bagaimana potret sumberdaya manusia saat ini yang berpengaruh terhadap pembangunan?

1.2.2    Bagaimana mempersiapkan sumberdaya manusia dalam upaya mengatasi permasalahan pembangunan di Indonesia?

1.2.3    Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap pengelolaan sumberdaya manusia terutama dalam masalah pendidikan agar sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini?

1.2.4    Bagaimana peranan sumberdaya manusia sehingga dapat mengatasi permasalahan pembangunan di Indonesia?

1.3       Tujuan

  1. Menjelaskan potret sumberdaya manusia yang terjadi saat ini yang berpengaruh terhadap pembangunan.
  2. Menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pembangunan di Indonesia.
  3. Menjelaskan kebijakan pemerintah terhadap pengelolaan sumberdaya manusia terutama dalam masalah pendidikan agar sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini.
  4. Menjelaskan peranan sumberdaya manusia yang dapat mengatasi permasalahan pembangunan di Indonesia.
  5. Mengetahui sumberdaya yang dapat berpengaruh terhadap pembangunan di Indonesia.
  6. Mengetahui upaya yang dilakukan agar permasalahan pembangunan di Indonesia dapat diatasi seperti dalam masalah sumberdaya manusia.
  7. Mengetahui kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola sumberdaya manusia melalui permasalahan pendidikan.

1.4       Manfaat

BAB II LANDASAN TEORI

Modal sosial merupakan identitas atau jati diri bangsa yang harus dipupuk dan dijaga. Modal sosial mirip bentuk-bentuk modal lainnya, dalam arti bersifat produktif. Modal sosial dapat dijelaskan sebagai produk relasi manusia satu sama lain, khususnya relasi yang intim dan konsisten. Modal sosial menunjuk pada jaringan, norma dan kepercayaan yang berpotensi pada produktivitas masyarakat. Namun demikian modal sosial berbeda dengan modal finansial, karena modal sosial bersifat kumulatif dan bertambah dengan sendirinya (self reinforcing) (Putnam, 1993). Modal sosial tidak akan habis jika dipergunakan, melainkan semakin meningkat. Rusaknya modal sosial lebih sering disebabkan bukan karena dipakai, melainkan karena tidak dipergunakan dengan baik. Berbeda dengan modal manusia, modal sosial juga menunjuk pada kemampuan orang untuk berasosiasi dengan orang lain (Coleman 1988).

Para sosiolog sering membicarakan mengenai modal, seperti modal manusia, modal intelektual dan modal kultural atau budaya, yang juga dapat digunakan untuk keperluan tertentu atau diinvestasikan untuk kegiatan di masa yang akan datang. Modal manusia misalnya dapat meliputi keterampilan atau kemampuan yang dimiliki orang untuk melakukan tugas tertentu. Modal intelektual mencakup kecerdasan atau ide-ide yang dimilikii manusia untuk mengartikulasikan sebuah konsep atau pemikiran. Sedangkan modal kultural meliputi pengetahuan dan pemahaman komunitas terhadap praktek dan pedoman-pedoman hidup dalam masyarakat.  Konsep mengenai modal manusia, intelektual dan kultural lebih sulit diukur, karena melibatkan pengetahuan yang dibawa orang dalam benaknya dan tidak mudah dihitung secara biasa.

Modal sosial yang juga konsep yang tidak gampang diidentifikasi dan apalgi diukur secara kuantitas dan absolut. Modal sosial dapat didiskusikan dalam konteks komunitas yang kuat (strong community), masyarakat madani yang kokoh, maupun identitas negara bangsa (nation state identity). Modal sosial termasuk elemen-elemennya seperti kepercayan, kohesivitas, altruisme, gotong-royong, jaringan dan kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui beragam mekanisme, seperti meningkatnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat, dan menurunnya tingkat kekerasan dan kejahatan (Suharto, 2008).

Dua tokoh utama yang mengembangkan konsep modal sosial , yaitu Putnam dan Fukuyama, memberikan definisi modal sosial yang penting. Meskipun berbeda, definisi keduanya memiliki kaitan yang erat, terutama menyangkut konsep kepercayaan (trust). Putnam mengartikan modal sosial sebagai penampilan organisasi sosial seperti jaringan-jaringan dan dan kepercayaan yang memfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama. Menurut Fukuyama, modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan dari sebuah komunitas.

Modal sosial dapat diartikan sebagai sumber (resource) yang timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam satu komunitas. Namun demikian pengukuran modal sosial jarang melibatkan interaksi itu sendiri. Melainkan,hasil dari interaksi tersebut, seperti terciptanya atau terpeliharanya kepercayaan antar warga masyarakat. Sebuah interaksi dapat terjadi dalam skala individual maupun institusional. Secara individual, interaksi terjadi manakala relasi intim antar individu terbentuk satu sama lain yang kemudian melahirkan ikatan emosional. Secara institusional, interaksi dapat lahir pada saat individu dan tujuan suatu organisasi memiliki kesamaan dengan visi dan tujuan organisasi lainnya.

Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan, orang-orang berinteraksi, berkomunikasi dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk  berbagai cara mencapai tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya secara pribadi. Keadaan ini terutama terjadi pada interaksi yang berlangsung relatif lama. Interaksi ini melahirkan modal sosial yaitu ikatan-ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama, yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dan kemanan yang tercipta dari adanya relasi yang relatif panjang. Seperti halnya modal finansial, modal sosial seperti ini dapat dilihat sebagai sumber yang dapat digunakan baik untuk kegiatan atau proses produksi untuk saat ini, ataupun bagi kegiatan di masa depan.

Masyarakat yang memiliki modal sosial tinggi cenderung bekerja secara gotong-royong, cenderung merasa aman untuk berbicara dan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan. Sebaliknya masyarakat yang memiliki modal sosial rendah akan tampak adanya kecurigaan satu sama lain, merebaknya ”kelompok kita” dan “kelompok mereka”, tiadanya kepastian hukum dan keteraturan sosial, serta sering munculnya kambing hitam.

Di samping terdapatnya modal sosial bagi kemajuan pembangunan juga terdapat modal manusia yang dianggap juga mempengaruhi kemajuan pembangunan itu sendiri. Modal manusia yang mempengaruhi terdiri atas pendidikan dan kesehatan dalam pembangunan ekonomi. Menurut Todaro (2006), pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar; terlepas dari hal-hal lain, kedua hal itu merupakan hal yang penting. Kesehatan merupakan inti dari kesejahteraan, dan pendidikan adalah hal yang pokok untuk menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga; keduanya adalah hal yang fundamental untuk membentuk kemampuan manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan. Oleh karena itu, kesehatan dan pendidikan juga dapat dilihat sebagai komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital. Peran gandanya sebagai input maupun output menyebabkan kesehatan dan pendidikan sangat penting dalam pembangunan ekonomi.

BAB III METODE PENULISAN

3.1       Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema. Selain itu, penulis juga melakukan pencarian data dengan searching internet.

3.2       Analisis Data

Data diperoleh dari hasil studi pustaka mengenai teori-teori berbagai dokumen yang kami analisis sejak mulai dari penyusunan makalah sampai selesai. Setelah data terkumpul dilakukan suatu proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang kami angkat. Dengan proses tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu outline makalah akhir yang dapat memudahkan penulis untuk menyelesaikan makalah ekonomi pembangunan secara terstruktur.

BAB II PEMBAHASAN

2.1       Potret Sumberdaya Manusia Saat Ini yang Berpengaruh Terhadap Pembangunan

Tingkat kemajuan suatu bangsa dinilai berdasarkan berbagai ukuran. Ditinjau dari indikator sosial, tingkat kemajuan suatu negara diukur dari kualitas sumberdaya manusianya. Suatu bangsa dikatakan semakin maju apabila sumberdaya manusianya memiliki kepribadian bangsa, berakhlak mulia, dan berkualitas pendidikan yang tinggi. Tingginya kualitas pendidikan penduduknya ditandai oleh makin menurunnya tingkat pendidikan terendah serta meningkatnya partisipasi pendidikan dan jumlah tenaga ahli serta profesional yang dihasilkan sistem pendidikan.

Bangsa Indonesia seperti halnya dengan bangsa-bangsa lain di dunia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan global. Harus diakui bahwa tantangan itu semakin lama tidaklah semakin ringan, akan tetapi justru berkembang menjadi semakin kompleks dan beragam. Di sisi lain, globalisasi juga membuktikan bahwa hanya bangsa-bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan tangguh akan sanggup menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Bangsa yang kuat dan tangguh juga akan sanggup untuk mengubah berbagai tantangan itu menjadi peluang yang menguntungkan.

Bangsa Indonesia sejatinya adalah bangsa yang memiliki karakter positif yang kuat. Salah satu dari karakter itu adalah semangat kejuangan yang terbukti telah berhasil membawa bangsa ini merebut kemerdekaannya dan tampil sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Oleh karena itu, di tengah maraknya tantangan pembangunan global yang sangat berat, menjadi kewajiban bagi segenap komponen bangsa untuk saling memberikan pencerahan dan saling berupaya membangun dan menumbuhkembangkan kembali karakter kejuangan itu.

Karakter kejuangan dan karakter positif bangsa lainnya itu harus dapat kita jadikan sebagai modalitas potensial untuk menghadapi tantangan global. Bangsa-bangsa yang maju dan berhasil menjadi negara terkemuka, umumnya memiliki warga bangsa dengan karakter positif, capaian pribadi yang prestisius, serta beragam capaian pribadi lainnya yang membanggakan. Karakter bangsa yang maju juga umumnya tercermin dari pola sikap warga bangsanya yang memahami sepenuhnya bahwa kesejahteraan dan tujuan bangsa hanya dapat dicapai melalui kreativitas dan kerja keras.

Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun karakter warga bangsanya itu tidak cukup hanya dengan menerapkan tatanan dan peraturan hukum yang kuat di kalangan masyarakatnya, akan tetapi juga harus ditopang oleh keberadaan sistem pembangunan tata-nilai di masyarakat, yang mengedepankan tercapainya pengokohan nilai-nilai positif karakter bangsa. Di sisi lain, ketidaksanggupan sebuah bangsa dalam melakukan pembinaan karakter warga bangsanya berpotensi untuk menghadirkan beragam masalah dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa.

Secara mendasar kemandirian sesungguhnya mencerminkan sikap seseorang atau sebuah bangsa mengenai dirinya, masyarakatnya, serta semangatnya dalam menghadapi tantangan. Karena menyangkut sikap, kemandirian pada dasarnya adalah masalah budaya dalam arti seluas-luasnya. Sikap kemandirian harus dicerminkan dalam setiap aspek kehidupan, baik hukum, ekonomi, politik, sosial budaya, maupun pertahanan kemanan.

2.2       Pembinaan Karakter Sumberdaya Manusia Dalam Upaya Mengatasi Permasalahan Pembangunan di Indonesia

Pembinaan karakter itu sangat erat korelasinya dengan kekuatan yang dimiliki bangsa dalam menyelenggarakan pembangunan. Karakter positif suatu bangsa adalah energi penggerak utama (prime energy) yang akan mendayagunakan semua modalitas yang dimiliki bangsa itu dalam mencapai cita-cita pembangunan.

Dalam kaitan itu, maka untuk menjadikan modalitas nasional menjadi kekuatan yang akan menjadikan Indonesia menjadi negara maju, kita harus mengedepankan pembangunan karakter dan watak bangsa yang positif. Pembangunan karakter yang akan menjadikan rakyat Indonesia menjadi kumpulan masyarakat pekerja keras, penuh semangat juang yang tinggi, mampu bekerjasama secara produktif dengan sesama warga bangsa, untuk menjadikan bangsanya yang maju dan berhasil dalam pembangunan.

Perubahan modalitas nasional menjadi kekuatan yang akan menjadikan Indonesia menjadi negara maju, harus mengedepankan pembangunan karakter dan watak bangsa yang positif. Pembangunan karakter yang akan menjadikan rakyat Indonesia menjadi kumpulan masyarakat pekerja keras, penuh semangat juang yang tinggi, mampu saling bekerjasama secara produktif dengan sesama warga bangsa, untuk menjadikan bangsanya yang maju dan berhasil dalam pembangunan.

Pembinaan moral dan karakter bangsa sangat terkait erat dengan peningkatan kualitas pembangunan pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam kaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, maka pemerintah telah bertekad untuk menjadikan pendidikan menjadi landasan utama dalam pembinaan dan penumbuhkembangkan karakter positif bangsa. Untuk itu maka pemerintah telah menetapkan bahwa pembangunan pendidikan harus diarahkan pada tiga hal pokok, yaitu:

Pertama, pendidikan sebagai sarana untuk membina dan meningkatkan jati diri bangsa untuk mengembangkan seseorang sehingga sanggup mengembangkan potensi yang berasal dari fitrah insani. Pembinaan jati diri akan mendorong seseorang memiliki karakter yang tangguh yang tercermin pada sikap dan perilakunya.

Kedua, pendidikan sebagai media utama untuk menumbuhkembangkan kembali karakter bangsa Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, bergotong-royong, tangguh, dan santun.

Ketiga, pendidikan sebagai tempat pembentukan wawasan kebangsaan, yaitu perubahan pola pikir warga bangsa yang semula berorientasi pada kesukuan menjadi pola pikir kebangsaan yang utuh. Melalui wawasan kebangsaan dapat dibangun masyarakat yang saling mencintai, saling menghormati, saling mempercayai, dan saling melengkapi satu sama lain, dalam menyelesaikan berbagai masalah pembangunan.

Di tengah terpaan krisis keuangan dan beragam krisis lainnya yang berskala global, maka pembinaan karakter dan moral positif bangsa merupakan solusi yang paling efektif untuk mampu bersikap optimis dan rasional. Karakter dan moral positif bangsa akan mendorong kita untuk tetap bekerja keras, produktif, dan pada akhirnya akan menjadikan kita mampu mengubah berbagai tantangan yang menerpa menjadi peluang yang menguntungkan.

2.3       Kebijakan Pemerintah Terhadap Pengelolaan Sumberdaya Manusia Terutama Dalam Masalah Pendidikan Agar Sesuai Dengan Keadaan Masyarakat Indonesia Saat Ini

Dalam kaitan dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka pemerintah mengedepankan strategi “pertumbuhan disertai pemerataan” atau “growth with equity”, yang ditujukan mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata. Strategi tersebut telah memberikan dampak yang positif baik pada percepatan penurunan tingkat pengangguran terbuka maupun tingkat kemiskinan. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2006 mencapai 10,5%, kini telah berhasil diturunkan menjadi 8,5% pada Februari 2008. Begitu pula, tingkat kemiskinan mengalami penurunan dari 17,7% pada tahun 2006 menjadi 15,4% pada Maret 2008.

Pemerintah melakukan terobosan besar dalam pembangunan pendidikan, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebanyak 20% dari APBN 2009, atau berkisar Rp. 200 Trilyun. Dengan anggaran sebesar itu, pemerintah bertekad untuk melakukan perbaikan dalam pembangunan pendidikan untuk mewujudkan terciptanya pendidikan nasional yang unggul dan berkualitas. Demikian pula, upaya peningkatan kesejahteraan rakyat juga akan terus ditingkatkan. Anggaran untuk penanggulangan kemiskinan yang telah meningkat sekitar tiga kali lipat dalam kurun waktu 2005-2008, akan terus ditingkatkan pada tahun 2009 mendatang.

Indonesia membutuhkan perencanaan pembangunan jangka panjang sebagai arah dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang dilakukan secara bertahap dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dibuatlah Undang-undang terkait dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional yaitu Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 (UU No.17 tahun 2007)

RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangs dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam bentuk rumusan, visi, misi dan arah pembangunan nasional.

RPJP Nasional digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan RPJM Nasional. Pentahapan pembangunan nasional disusun dalam masing-masing periode RPJM Nasional sesuai dengan visi, misi dan Program Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat. RPJM Nasional memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program dan lintas kementrian/lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

2.4       Peranan Sumberdaya Manusia Berkualitas Dalam Mengatasi Permasalahan Pembangunan di Indonesia

SDM adalah modal dasar pembangunan yang terdiri atas dimensi kuantitatif yaitu jumlah dan struktur penduduk, serta dimensi kualitatif yaitu mutu hidup penduduk. Di samping itu, SDM juga merupakan faktor dominan yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pembangunan guna memperlancar pencapaian sasaran pembangunan nasional yaitu antara lain kualitas manusia dan masyarakat Indonesia dan penguasaannya terhadap IPTEK, serta disiplin nasional yang merupakan perwujudan kepatuhan kepada hukum dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Kemajuan suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat pendidikan penduduk, tingkat kesehatan penduduk, usia harapan hidup, tingkat pendapatan penduduk dan pemerataan pendistribusian kesejahteraan. Hal – hal tersebut tidak berdiri sendiri, semakin tinggi tingkat pendapatan suatu keluarga, misalnya, semakin mampu pula keluarga tersebut menjaga kesehatannya dan meningkatkan pendidikan anggota keluarganya. Setelah itu, dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan kesehatan, semakin tinggi pula produktifitas dan kemampuan untuk meningkatkan pendapatan.

Suatu bangsa dapat dikatakan semakin mandiri bila bangsa tersebut semakin mampu mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain dengan kekuatan sendiri. Salah satu syarat yang harus terpenuhi adalah peningkatan kualitas SDM yang tercermin dari semakin banyak tenaga profesional yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunannya. Kualitas SDM begitu penting, baik sebagai tenaga penggerak atau pelaku pembangunan maupun sebagai tujuan dan sasaran pembangunan nasional. SDM sebagai inti pembangunan adalah merupakan salah satu input (faktor) yang menentukan keberhasilan pembangunan, maupun sebagai output atau yang ingin dihasilkan dari proses pembangunan nasional tersebut.

Secara mendasar kemandirian sesungguhnya mencerminkan sikap seseorang atau sebuah bangsa mengenai dirinya, masyarakatnya, serta semangatnya dalam menghadapi tantangan-tantangan. Karena menyangkut sikap, kemandirian pada dasarnya adalah masalah budaya dalam arti seluas-luasnya. Sikap kemandirian harus dicerminkan dalam setiap aspek kehidupan, baik hukum, ekonomi, politik, sosial budaya, maupun pertahanan kemanan.

Kualitas SDM merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa seperti telah dibuktikan oleh berbagai negara, diantaranya Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura. “Kebangkitan Ekonomi Asia” yang telah berhasil mendorong kemajuan ekonomi secara spektakuler tersebut tidaklah bertumpu pada kekayaan alam yang melimpah ataupun ketersediaan tenaga kerja murah, melainkan pada kualitas SDMnya. Dalam rangka mengejar ketertinggalan, peningkatkan kualitas SDM harus diarahkan pada penguasaan IPTEK, informasi dan keahlian manajerial sehingga perlu diberikan prioritas utama pada upaya memperkuat basis pendidikan. Investasi human capital akan berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Pertumbuhan ekonomi yang disebut oleh Bank Dunia sebagai the East Asian Miracle di negara-negara yang disebut “Macan Asia” itu, justru dikarenakan mereka berhasil dalam investasi human capital-nya.

Karenanya, pembangunan SDM Indonesia diarahkan pada potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga yang dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum; pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan IPTEK dalam penyelenggaran pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan nilai tambah pembangunan; dan kesejahteraan rakyat yang senantiasa memperhatikan bahwa setiap warga negara berhak atas taraf kesejahteraan yang layak serta berkewajiban ikut serta dalam uapaya mewujudkan kemakmuran rakyat.

Salah satu visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah pancasila adalah memperkuat jatidiri dan karakter bangsa melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.

Dalam arah, tahapan, dan prioritas pembangunan jangka panjang, terdapat ukuran tercapainya Indonesia yang maju, mandiri, dan adil, pembangunan nasional dalam 20 tahun mendatang diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok  dalam hal ini pada aspek Terwujudnya Masyarakat Indonesia Berakhlakmulia, Bermoral, Beretika, Berbudaya, dan Beradab ditandai oleh hal-hal berikut:

1.   Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan falsafah pancasila yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi luhur, toleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis dan berorientasi IPTEK.

2.   Makin mantapnya budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya peradaban, harkat dan martabat manusia Indonesia, dan menguatnya jati diri dan kepribadian bangsa.

Arah pembangunan jangka panjang dalam upaya mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab adalah sangat penting bagi terciptanya suasana kehidupan masyarakat yang penuh toleransi, tenggang rasa, dan harmonis. Disamping itu kesadaran akan budaya memberikan arah bagi perwujudan identitas nasonal yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan menciptakan iklim kondusif dan harmonis sehingga nilai-nilai kearifan lokal mampu merespon modernisasi secara positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaaan;

1.   Pembangunan agama diarahkan untuk menetapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan, membina akhlak mulia, memupuk etos kerja, menghargai prestasi, dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan. Di samping itu pembangunan agama diarahkan pula untuk meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama dengan meningkatkan rasa saling percaya dan harmonis antar keompok masyarakat sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang penuh toeransi, tenggang rasa dan harmonis.

2.  Pembangunan dan pemantapan jatidiri bangsa ditujukan untuk mewujudkan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar, unik, modern, dan unggul. Jati diri tersebut merupakan kombinasi antara nilai luhur bangsa seperti religus, kebersamaan dan persatuan, serta nilai modern yang universal, mencakup etos kerja dan prinsip tata kepemerintahan yang baik. Pembangunan jati diri bangsa tersebut dilakukan melalui transformasi, revitalisasi, dan reaktualisasi tata nilai budaya bangsa yang mempunyai potensi unggul dan memantapkan nilai modern yang membangun.

Suatu bangsa dapat dikatakan semakin mandiri bila bangsa tersebut semakin mampu mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain dengan kekuatan sendiri. Salah satu syarat yang harus terpenuhi adalah peningkatan kualitas SDM yang tercermin dari semakin banyak tenaga profesional yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunannya. Intinya, kualitas SDM begitu penting, baik sebagai tenaga penggerak atau pelaku pembangunan maupun sebagai tujuan dan sasaran pembangunan nasional. Dengan kata lain, SDM sebagai inti pembangunan adalah merupakan salah satu input (faktor) yang menentukan keberhasilan pembangunan, maupun sebagai output atau yang ingin dihasilkan dari proses pembangunan nasional tersebut.

BAB IV KESIMPULAN

4.1       Kesimpulan

Kemajuan pembangunan ekonomi terdiri atas beberapa faktor di antaranya, karakter bangsa yang termasuk modal sosial, sumberdaya manusia, dan sumberdaya alam yang melimpah. Terlepas dari itu semua, terdapat juga faktor lain yang mempengaruhi pembangunan ekonomi di Indonesia seperti adanya modal manusia terutama dalam hal pendidikan dan kesehatan. Adanya pembinaan karakter sangat erat korelasinya dengan kekuatan yang dimiliki bangsa dalam menyelenggarakan pembangunan. Sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang melimpah secara ekonomi juga sangat strategis dalam lalu-lintas dunia, percaturan ekonomi, dan politik internasional. Selain itu, terdapat modal manusia yang juga mempengaruhi kemajuan ekonomi dalm pembangunan seperti pendidikan dan kesehatan.

4.2       Saran

Sumberdaya manusia dan alam yang melimpah diharapkan dapat dipergunakan sesuai dengan aturan. Sebagai modal sosial yang berkualitas, manusia yang memiliki karakter bangsa yang kuat memiliki peran penting dalm kemajuan pembangunan di Indonesia. Karakter kejuangan dan karakter positif bangsa lainnya itu harus dapat kita jadikan sebagai modalitas potensial untuk menghadapi tantangan global yang saat ini sedang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. Karakter Bangsa Sebagai Modal Sosial Untuk Menghadapi Tantangan

Pembangunan Global. http://www.setneg.go.id/index.php?Itemid=241&id=3208&option=com_content&task= view.(diakses tanggal 18 Mei 2010).

[Anonim]. Visi Pembangunan Nasional Dan Lunturnya Modal Sosial.

http://pekerja-sosial.blogspot.com/2010/04/visi-pembangunan-nasional-dan-lunturnya.html Ife, Jim dan Frank Tiserio. 2008. “Community Development, Alternatif. (diakses tanggal 18 Mei 2010).

[Anonim]. Dicari: SDM Berkualitas Penyelamat Bangsa.

http://udiutomo.blog.friendster.com/2008/11/dicari-sdm-berkualitas-penyelamat-bangsa-23. (diakses tanggal 18 Mei 2010).

Lawang, Robert MZ. 2004. “Kapital Sosial, Dalam Perspektif Sosiologik Suatu

Pengantar”. Jakarta: UI Press.

Suharto, Edi. 2008. “Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat”.

Bandung: Alfabeta.

Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2006. “Pembangunan Ekonomi Edisi

Kesembilan Jilid 1”. Jakarta: Erlangga.

TUGAS MAKALAH AKHIR

BERPIKIR DAN MENULIS ILMIAH (KPM 200)

PERAN KOMUNIKASI SEORANG PUBLIC RELATIONS

Oleh :

Kartika

( I34080065 )

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam hidupnya selalu ingin berhubungan dengan manusia yang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain akan merasa terisolasi dari masyarakatnya. Adanya kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan juga kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya merupakan hal yang mendorong manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat tersebut, komunikasi mempunyai peranan penting dan pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang.

Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki tiap individu berbeda-beda. Adakalanya, komunikasi itu sulit untuk disampaikan kepada orang lain dikarenakan pada tiap diri individu itu sendiri menganggap bahwa komunikasi merupakan bentuk interaksi yang sederhana. Padahal, jika diketahui lebih luas bahwa komunikasi itu sangatlah rumit. Dalam berkomunikasi juga dapat terjadi kesalahpahaman dalam pemaknaan pesan yang disampaikan dan dapat menimbulkan masalah, hambatan, kekecewaan, meregangkan suatu hubungan, dan sebagainya. Menurut Rumanti[1] (2005: 97), Salah satu hambatan terbesar bagi kelancaran arus informasi adalah keadaan atau sikap yang sudah melekat, membudaya dalam organisasi itu sendiri. Terdapat jarak fisik antarorang yang hendak berkomunikasi dalam sistem itu.

Begitu besarnya peran komunikasi dalam masyarakat, sehingga komunikasi dijadikan suatu pekerjaan atau profesi, seperti public relations. Menurut Simoes[2] (1984: 7) menyimpulkan “Apa Public Relations itu sebenarnya?”

  1. PR merupakan proses interaksi. PR menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak.
  2. PR adalah fungsi manajemen. PR menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antara lembaga atau organisasi dengan publiknya, baik internal maupun eksternal. Hal ini merupakan unsur yang sangat penting dalam manajemen dalam pencapaian tujuan organisasinya.
  3. PR merupakan aktivitas di berbagai bidang ilmu (PR adalah multidisiplin ilmu). PR menanamkan pengetian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan goodwill, kepercayaan, saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya.
  4. PR merupakan profesi profesional dalam bidangnya. Juga, PR merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi dengan secara tepat dan dengan secara terus-menerus. PR merupakan kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan.
  5. PR merupakan penggabungan berbagai ilmu. PR merupakan penerapan kebijaksanaan dan pelaksanaannya melalui interpretasi yang peka atas berbagai peristiwa.

“Praktek kehumasan adalah suatu seni sekaligus suatu disiplin ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensi darinya, memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan atau kepentingan khalayaknya” (Pertemuan asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City, Agustus 1978: 9)[3].

Komunikasi yang dimiliki seorang public relations mempunyai peranan penting dalam setiap hubungannya. Apabila komunikasi tidak dapat digunakan dengan baik atau tidak berjalan dengan lancar maka komunikasi tersebut tidak akan efektif dalam suatu proses komunikasi. Hal ini yang membuat banyak lembaga organisasi menilai keahlian komunikasi manajerial yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kekurangan dalam berkomunikasi.

“Peran komunikasi dalam public relations adalah (1) komunikasi dalam PR merupakan titik sentral, (2) dalam setiap proses komunikasi, hubungan kemanusiaan merupakan proses yang menyangkut kepribadian, sikap, dan tingkah laku yang terjadi pada orang-orang yang terlibat, (3) PR dalam fungsinya melaksanakan komunikasi persuasif dua arah di semua bidang kegiatan dengan maksud memberi motivasi kerja, bertanggung jawab, dan produktif, (4) Atas dasar pengertian tersebut terlihat bahwa komunikasi timbal balik dalam PR merupakan proses integrasi antarmanusia yang bersifat manusiawi, bukan hanya hubungan antarmanusia (human relations) saja. Human relations di sini bersifat action oriented, yang menuju perasaan lahir batin” (Rumanti, 2005: 86)[4].

Pada dasarnya, kemampuan berkomunikasi seorang public relations dapat ditingkatkan dengan cara mengembangkan kemampuan atau potensi yang ada dalam diri seorang public relations, belajar bagaimana caranya berkomunikasi yang baik agar pesan yang akan disampaikan dapat diterima tanpa adanya hambatan dan gangguan. Karena apabila seorang public relations tidak memiliki kemampuan atau potensi untuk berkomunikasi tersebut, akan mengakibatkan komunikasi tidak berjalan dengan lancar atau terjadi hambatan.

“Penyebab-penyebab dari hambatan komunikasi yang terjadi antara lain: (1) Komunikator berpikir dalam lingkup dirinya sendiri, (2) Berbicara dengan konteks penuh rahasia dan disampaikan dalam waktu yang kurang tepat, (3) Tanpa memberi contoh yang nyata, penjelasan sifatnya hanya umum, (4) Bersikap diktator, kurang menggunakan perasaan sebagai pimpinan, sebagai teman, (5) Lamban, tidak efisien, (6) Terlalu cepat mengambil keputusan, dan (7) Tidak konsekuen, tidak ada alternatif” (Rumanti, 2005: 96)[5].

Berkomunikasi yang baik dan efektif akan menghasilkan keuntungan yang tinggi. Komunikasi interpersonal dipandang sebagai satu-satunya alat manajemen oleh PR yang dimanfaatkan dalam mengembangkan suatu organisasi agar tercipta suatu komunikasi yang baik dan efektif. Menurut Muhammad (2004: 159)[6], Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Komunikasi interpersonal, penerapannya antara pribadi atau individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama.

Seseorang akan maju dalam segala hal, jika ia memiliki kemampuan berinteraksi dan juga berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat secara global. Di sinilah, sejauh mana peran komunikasi yang dimiliki oleh seorang public relations perlu ditinjau kembali dalam berhubungan dengan siapa saja.

1.2 Perumusan Masalah

  • Bagaimana seorang public relations dapat berkomunikasi dengan efektif?
  • Jelaskan hubungan antara public relations dengan media publisitas, khususnya televisi?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

  • Mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang public relations agar dapat berkomunikasi dengan efektif.
  • Mengetahui adanya hubungan antara public relations dengan media publisitas, khususnya televisi.
  • Menyelesaikan tugas makalah akhir mata kuliah “Berpikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)”.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :

  • Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
  • Mampu mengidentifikasi hubungan antara public relations dengan media publisitas, khususnya televisi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keefektifan Komunikasi Seorang Public Relations

Peran komunikasi yang dimiliki seorang public relations sangatlah penting agar dapat tercipta komunikasi yang efektif. Tidak ada seorang pun dalam keseharian tugasnya tanpa berkomunikasi, baik itu dalam masalah pekerjaan maupun masalah di luar pekerjaan. Proses komunikasi yang berhasil dengan baik sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku seorang public relations sebagai pengirim gagasan atau pesan, penerima  pesan, media yang dipakai, teknologi informasi yang ada, isi pesan dan cara pesan yang disampaikan serta suasana komunikasi itu sendiri. Keberhasilan itu akan dicerminkan oleh tidak adanya kesenjangan pemahaman antara pengirim dan penerima pesan.

Menurut Rumanti[7] (2005: 107), terdapat empat hal yang harus selalu diperhatikan, diingat, dan dilaksanakan dalam kegiatan komunikasi oleh PR adalah sebagai berikut: (1) bahwa publik kita itu manusia, jadi mereka tidak pernah bebas dari berbagai pengaruh apa saja, (2) manusia itu cenderung suka memperhatikan, membaca atau mendengarkan pesan yang dirasakan sesuai dengan kebutuhan atau sikap mereka, (3) adanya berbagai media massa yang beragam, memberikan efek yang beragam pula bagi publiknya, dan (4) media massa memberikan efek dengan variasi yang besar kepada publik atau perseorangan maupun kelompok.

Tetapi sekarang ini, keefektifan komunikasi yang lebih tinggi cenderung terlihat dalam komunikasi antar pribadi (interpersonal communications) atau dengan penggunaan media massa sebagai alat untuk berkomunikasi yang lebih efektif.

“Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambh komplekslah komunikasi tersebut” (Muhammad, 2004: 159)[8].

Keefektifan ini dapat terlihat dari penyampaian pesan yang sama, terjadinya umpan balik antara pengirim pesan dan penerima pesan, dan lain-lain. Dalam komunikasi interpersonal, proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka, dibagi atas percakapan, dialog, wawancara, seperti dalam suatu percakapan antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa yang lain yang sedang membicarakan tugas akhirnya. Pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang cukup dekat dan pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan secara spontan dan simultan.

Komunikasi antar pribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari berlangsung hubungan antara seorang sahabat yang sudah saling dekat. Hubungan komunikasi ini akan berjalan dengan lancar apabila di antara keduanya sudah saling mengetahui maksud dari pesan yang akan disampaikan. Agar dalam berkomunikasi tercipta keefektifan terhadap komunikasi yang disampaikan, diketahui terdapat beberapa ciri yang harus dimiliki seorang PR. Menurut Kumar (2000: 121-122)[9], “lima ciri efektifitas KAP sebagai berikut : (1) keterbukaan (openess); (2) empati (empathy); (3) dukungan (supportiveness); (4) rasa positif (positiveness); (5) kesetaraan (equality)”. Dalam membangun komunikasi yang efektif, terdapat lima hukum[10] yang perlu diperhatikan yaitu ”Respect ( … sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan … ), Empathy ( … kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain … ), Audible ( … dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik … ), Clarity ( … kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan … ), dan Humble ( … sikap rendah hati yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain … )”.

Komunikasi seorang PR tidak hanya dengan menggunakan komunikasi interpersonal, tetapi dapat juga dengan komunikasi massa. Komunikasi massa yang diterapkan melalui alat, yaitu media massa meliputi cetak dan elektronik. Menurut Wright[11] (1986: 199), dalam komunikasi massa khalayak relatif besar, heterogen, dan anonim bagi sumber. Pengalaman bersifat publik dan cepat. Sumber bekerja lewat suatu organisasi yang rumit alih-alih dalam isolasi, dan pesan mungkin mewakili usaha banyak orang yang berbeda.

Keefektifan yang terjadi dengan penggunaan media massa menimbulkan pengaruh terhadap komunikasi yang berlangsung. Contohnya penggunaan televisi sebagai media elektronik untuk mendapatkan informasi digunakan sebagian orang termasuk seorang public relations dalam memberikan informasi atau melakukan kegiatan PR. Berikut ini terdapat Tabel Karakteristik Saluran Komunikasi Interpersonal dan Mass Media.

Tabel 1. Karakteristik Saluran Komunikasi Interpesonal dan Mass Media[12]

No. Karakteristik Saluran Interpersonal Saluran Media Massa
1. Arus Pesan Cenderung 2 arah Cenderung Searah
2. Konteks Komunikasi Tatap muka Melalui Media
3. Tingkat Umpan Balik Tinggi Rendah
4. Kemampuan mengatasi tingkat selektivitas *) Tinggi Rendah
5. Kecepatan Jangkauan terhadap khalayak yang banyak Relatif lambat Relatif cepat
6. Efek yang mungkin terjadi Perubahan dan pembentukan sikap Perubahan pengetahuan

*) Terutama selektivitas (untuk) terdedah atau selective exposure

Sumber : Rogers dan Shoemaker (1971:253), seperti dikutip dalam Materi Bahan Ajar ILMU PENYULUHAN (KPM 211), Mugniesyah (2006:3)

2.2 Hubungan antara Public Relations dengan Media Publisitas, Khususnya Televisi.

Media publisitas seperti radio, televisi, dan media elektronik lainnya saling berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan seorang public relations. Dalam profesi public relations hubungan media juga sering kali dipahami sebagai penanganan krisis dengan memberitakan tentang hal-hal positif tentang perusahaan saat perusahaan sedang dilanda berita negatif. Pada saat krisis cara terbaik penanganan hubungan media oleh seorang PR adalah dengan mengakui dan memperbaiki kesalahan dengan menginformasikan usaha-usaha ke depan. Dalam hal ini baik media massa maupun PR dalam posisi saling memanfaatkan dan saling diuntungkan. Menurut Rumanti[13] (2005: 118), Media Public Relations adalah berbagai macam sarana penghubung yang dipergunakan seorang PR (mewakili organisasi) dengan publiknya, yaitu publik internal maupun publik eksternal untuk membantu pencapaian tujuan. Alat-alat komunikasi yang dipergunakan dalam hal ini ada berbagai jenis.

Pada umumnya, seorang public relations memanfaatkan media televisi karena  dirasa lebih efektif dan efisien, serta cukup potensial sebagai penggunaan media yang tepat dalam berkomunikasi. Rumanti (2005: 129)[14], “kegunaan siaran televisi adalah untuk menyebarluaskan informasi dan berita, baru dimulai pada tahun 1962, perluasan siarannya baru dimulai tahun 1976, yakni sejak adanya satelit domestik Palapa. Adanya siaran televisi yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi tersebut terdapat keunggulan dan kelemahan yang dimiliki televisi. Keunggulan televisi sebagai media massa di antaranya siaran yang dipancarkan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, punya daya tarik khusus sebagai media “pandang-dengar” (audio-visual), sedangkan kelemahan televisi sebagai media massa adalah biayanya relatif mahal, komunikasinya satu arah, sebagai media audio visual, namun relatif dalam pandangan yang cepat, dan daya beli cukup mahal”.

Dari kelemahan dan kekurangan tersebut, seorang PR mampu mengatur bagaimana cara untuk menerapkan suatu cara berkomunikasi yang baik. Dengan menggunakan media televisi, PR dapat menginformasikan suatu informasi yang akan disampaikan dengan efektif. Dari penyiaran televisi tersebut, membuat seorang pekerja PR penting untuk mendapatkan liputannya. Oleh karena itu, PR melakukan pemilihan yang sesuai dalam tahap penyebaran berita.

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS

HAMBATAN                                      PERAN KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS

KOMUNIKASI EFEKTIF                                HUBUNGAN PR DENGAN

MEDIA PUBLISITAS (TELEVISI)

Komunikasi                  Komunikasi

Interpersonal                Massa (khususnya media televisi)

Komunikasi yang dimiliki seorang public relations memiliki peranan yang sangat penting. Bagaimana seorang PR dapat dikatakan sukses berkomunikasi, apabila PR itu sendiri dapat menyampaikan pesan atau berita kepada seseorang sampai makna yang diberikan dan yang diterima sama. Dalam komunikasi itu sendiri, terdapat hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi seorang public relations. Peran komunikasi yang dimiliki PR dapat berlangsung suatu komunikasi yang efektif. Dari komunikasi yang efektif tersebut, dapat diketahui seorang PR lebih menggunakan komunikasi interpersonal dan komunikasi massa sebagai alat untuk berkomunikasi yang lebih efektif dan lebih efisien karena komunikasi yang efektif harus memperhatikan situasi, tempat, waktu, dan pendengarannya daripada berkomunikasi dengan intrapersonal. Kemudian, dapat dilihat pula adanya hubungan antara PR dengan media publisitas itu sendiri, khususnya televisi yang digunakan seorang PR untuk berkomunikasi. Daya tarik dari televisi sudah hampir menarik perhatian masyarakat, karena televisi merupakan satu-satunya pendorong terkuat dalam menyampaikan pesan.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Komunikasi yang efektif haruslah dimiliki oleh seorang public relations. Peran dari komunikasi yang disampaikan seorang public relations harus mempunyai kesamaan makna dari pesan atau berita yang akan disampaikan. Dalam berkomunikasi, seorang PR mengetahui beberapa hal yang harus selalu diingat, diperhatikan, dan dilakukan dalam kegiatan PR. Kegiatan PR dilakukan dengan menggunakan komunikasi interpersonal atau komunikasi massa dengan penggunaan media publisitas, khususnya televisi yang dirasa lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan pesan atau informasi. Penggunaan media publisitas tersebut khususnya televisi mempunyai hubungan dengan kegiatan PR itu sendiri, di mana PR dapat memberikan berita atau informasi kepada khalayak secara luas. Televisi sudah lama dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan PR dalam menyampaikan pesan. Walaupun dalam penggunaannya, televisi mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam masalah penyiaran sehingga membuat seorang PR melakukan pemilihan pada tahap penyampaian berita atau informasi.

3.2 Saran

Melihat perkembangan komunikasi yang semakin meningkat, membuat seorang public relations harus dapat berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang digunakan, baik dengan menggunakan komunikasi interpersonal maupun dengan menggunakan komunikasi massa melalui media televisi. Dalam proses komunikasi, diharapkan seorang public relations dapat mengetahui kondisi atau situasi, tempat, dan lain sebagainya agar pesan atau berita yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik dan terjadi kesamaan makna. Seorang public relations, diharapkan dapat mengidentifikasi hubungan yang terjadi antara public relations dengan media publisitas, khususnya media televisi yang dianggap lebih efektif dan efisien dalam penyampaian informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Jekins, Frank.1992.PUBLIC RELATIONS Edisi Keempat.Drs. Haris Munandar,

penerjemah.Jakarta: Erlangga

Mugniesyah, Siti Sugiah.2006.Materi Bahan Ajar ILMU PENYULUHAN (KPM

211).Bogor: IPB Press

Muhammad, Dr. Arni.2004.KOMUNIKASI ORGANISASI.Jakarta: Bumi Aksara

Rumanti, Sr. Maria Assumpta.2005.DASAR-DASAR PUBLIC RELATIONS Teori

dan Praktik.Jakarta: PT Grasindo

Tubbs, Stewart L. dan Sylvia Moss.2000.HUMAN COMMUNICATION Konteks-

Konteks Komunikasi Buku Kedua.Dr. Deddy Mulyana, M.A. dan Gembirasari,penerjemah.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

[anonim].Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communication).

http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/.2 Januari 2010

[anonim].Komunikasi yang Efektif.http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/

mandiri/2002/04/1/man01.html.2 Januari 2010


[1] Sr. Maria Assumpta Rumanti, DASAR-DASAR PUBLIC RELATIONS Teori dan Praktik (Jakarta: PT Grasindo, 2005), h.97

[2] Roberto Simoes seperti dikutip Sr. Maria Assumpta Rumanti, DASAR-DASAR PUBLIC RELATIONS Teori dan Praktik (Jakarta: PT Grasindo, 2005), h.7

[3] Sebuah pertemuan yang dilakukan para asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City yang berlangsung pada Bulan Agustus Tahun 1978 seperti dikutip dalam buku PUBLIC RELATIONS Edisi Keempat, h.9

[4] Sr. Maria Assumpta Rumanti, op. cit., h.86

[5] Ibid., h.96

[6] Dr. Arni Muhammad, KOMUNIKASI ORGANISASI (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h.159

[7] Sr. Maria Assumpta Rumanti, op. cit., h.107

[8] Dr. Arni Muhammad, op. cit., h.159

[9] Dikutip dari http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/ yang diakses pada tanggal 2 Januari 2010

[10] Dikutip dari http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/04/1/man01.html yang diakses pada tanggal 2 Januari 2010

[11] Wright seperti dikutip Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, dalam buku HUMAN COMMUNICATION Konteks-Konteks Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), h.199

[12] Rogers dan Shoemaker (1971:253), seperti dikutip dalam Materi Bahan Ajar ILMU PENYULUHAN (KPM 211), Mugniesyah (2006:3) pada Materi Peranan Komunikasi Massa dalam Penyuluhan Pertanian

[13] Sr. Maria Assumpta Rumanti, op. cit., h.118

[14] Ibid., h.129

Ku Titip Surat Ini Untuk MU

Posted: March 29, 2010 in Uncategorized

Kemarin, saat saya lagi buka email, ada email masuk dari sahabat saya, yang isinya perenungan untuk kita. Kita yang senantiasa disibukkan dengan berbagai macam urusan, hingga kadang (bahkan sering) lupa pulang, secara halus diingatkan dengan bijak oleh tulisan Armen Halim Naro, Lc… Semoga bermanfaat ;)

D

Allahummaghfirlii..wa li wa lidayya warhamhuma kamaa robbayaani soghiro…

………………..
Assalamu’alaikum,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah
memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…
Wahai anakku, Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah
berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap
kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini
lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi

Hangatnya sentuhanmuHangatnya sentuhanmu

menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan.
Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti,
dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan

ibu mengajariku apapunibu mengajariku apapun

selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Ayo sholat
ajariku menyebut namaMuajariku menyebut namaMu

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu.
saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir,
entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya
setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran.
Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu.
Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku
manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil
menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!
Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu
jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari
keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul
denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu . Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang
layak untukku wahai anakku! Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah
naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Semoga kau dimuliakanSemoga kau dimuliakan

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah
hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan
belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits:
“Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)
Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang
keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai
Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)
Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)
Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan
menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…”
Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang
telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,
Ibumu
Diketik ulang dari buku
‘Kutitip Surat Ini Untukmu’
karya Ustadz
Armen Halim Naro, Lc rahimahullah

——————————————

Fa bi Ayyi a Laa i robbikumaa tukadzdzibaan (ar Rahman)

VIVAnews – Buah dan sayur dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral yang disarankan untuk selalu ada dalam menu sehari-hari. Di balik manfaatnya, sayur dan buah berpeluang membawa racun yang berbahaya untuk pertumbuhan otak anak.

Buah dan sayur yang tidak melalui pencucian sempurna, memungkinkan pestisida yang digunakan untuk membasmi hama masih menempel. Racun jenis chlorpyrifos itu memicu keterlambatan fisik dan mental anak.

Studi terhadap 266 anak di Bronx Selatan dan Utara Manhattan New York Amerika Serikat menemukan, adanya konsentrasi tinggi pestisida dalam darah (lebih tinggi 6,17 pg/gram) memicu penurunan pengembangan psikomotorik dan skor pengembangan mental pada anak usia tiga tahun.

“Penelitian membantu mengetahui apa efek pestisida chlorpyrifos pada perkembangan anak. Ternyata ada hubungan jelas antara bahan kimia , terganggunya perkembangan mental dan motorik anak, bahkan jika ada faktor lingkungan lain yang membahayakan,” kata Gina Lovasi, dari Columbia University’s Mailman School of Public Health, seperti dikutip dari Healthday.

Hasil penelitian akan dipublikasikan pada American Journal of Public Health edisi Mei mendatang. “Meskipun pestisida dilarang digunakan untuk perumahan di Amerika Serikat, chlorpyrifos dan insektisida organophosphorus masih sering digunakan untuk berbagai keperluan pertanian,” kata peneliti, Virginia Rauh.

Pestisida jenis ini sudah dilarang penggunaannya oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS sejak 2001, namun kerap masih digunakan dalam pertanian. Melalui hasil studi tersebut, para peneliti berharap agar para profesional dan pembuat kebijakan mengetahui bahaya pemaparan pestisida bagi ibu hamil dan anak-anak.